Skip to main content

Posts

Cewek Bukan Permainan

Cerita cinta remaja memang membuatku memiliki misi yang jahat. Tapi karena banyak hal yang mendorongku untuk melakukan ini. Sebelum aku menceritakan ini, aku minta maaf dulu kepada orang yang tersangkut dalam ceritaku ini. Cerita ini dimulai saat aku pertama kali masuk SMA. Yah, aku masuk kelas sepuluh lima. Aku dikenal diam disini. Tidak banyak anak yang tahu aku yang sebenarnya. Sekitar tiga bulan dari masuk sekolah baruku ini, aku dekat dengan salah satu cowok dikelasku. Perkenalan ini dimulai dari jaringan sosial di internet. Semakin hari, semakin dekat saja aku dengannya. Tapi memang saat itu, aku tidak punya perasaan apa-apa dengannya. Tapi karena kesehariannya aku dengan dia, jadi ada respect dengannya. Mulai dari di ajak makan, yah aku ingat sekali. Pertama kali dia mengajakku makan, waktu itu kita dengan mengerjakan mading (majalah dinding) bersama. Dan aku juga ingat sekali, aku di ajak makan soto ayam. Setelah dia berani mengajakku makan, dia mengajakku untuk pulang bareng...

Orang dewasa itu ribet

Kadang aku enggak ngerti jalan pikiran orang dewasa, emang apa sih yang mereka pikirkan. Emang bener kata mereka, jangan cuma ngurusi urusan dunia, tapi yang mereka pikirkan cuma duit duit dan duit. Kadang sampai jengkelnya, aku sempet berpikir, jual saja aku, kalau itu yang bisa membuat mereka bahagia, dan enggak tengkar lagi. Coba saja aku sudah dewasa, aku enggak mau kayak mereka. Bukannya aku enggak mau nurut, tapi apa yang bisa mereka banggakan dengan terus tengkar cuma karena masalah sepele. Kalau sudah tengkar bukan cuma kata-kata "Bangsat" tapi juga ngungkit-ngungkit keselahan yang udah lalu. Biar apa sih? Biar semua orang tau kalau mereka pernah ngelakuin kesalahan? Orang dewasa emang ribet.

Rasanya Asam Manis

Setelah kejadian dimobil itu, aku banyak menguras otak buat berpikir. Dan sampai sekarangpun aku belum menjawab pertanyaan Adhi. Akhir-akhir ini dia sering banget antar jemput aku kesekolah, ke mall, bahkan belanja sama Bunda juga. Sore ini, sepulang sekolah dia berencana mengajakku ke tempat mainnya sama teman-temannya itu. From : Adhi To : Icha Cha, nanti sore ikt ak ya?  Mau yaa? One message. Dari Adhi, ngapain ya dia sms aku?, pikirku. Open. Sebelum aku menjawab smsnya Adhi, aku dikagetkan dengan hentakkan kaki yang menuju ke arah ku. “Mana Handphone kamu!” Suara itu tidak asing buatku, bu Muji. “Jangan coba-coba buat menyalakan handphone saat pelajaran dimulai.” Bu Muji jahat banget sih, pikirku. Tenangkan dirimu Cha, sabar dulu ah, dendam kesemut sama guru itu, kata-kataku mulai melonjak-lonjak dalam hati. “Kamu ngapain sih Cha tadi?” Tanya Ita penasaran. “Emboh nggak tahu!” Jawabku jengkel. “Sabar Cha.” Kata Nadine bebarengan dengan tepukan Vina dibahuku. Sepulang seko...

Cinta Dilanda Ragu

Sebulan berlalu, penuh kebimbangan. “Jadi sampai sekarang kamu belum kasih jawaban ke Adhi, Cha?” Tanya Ita kepadaku. Bingung. Gimana aku jawabnya ya? Pikirku. “Loh? Kamu belum jadian sama Adhi?” Tanya Nadine dengan suara kerasnya. Sunyi. Hening. “Sstt, jangan rame-rame Nadine!” Sentak Vina reflek. Suasana kelas kembali seperti semula. “Hallo semuanya!” Sapa Ryka yang baru datang. “Ada Adhi tuh di depan kelas, lagi ngobrol sama temen-temennya loh!” Kata-kata Ryka membuatku kaget. Mungkin tidak sih, kalau dia kesini untuk lihat aku? Ah mana mungkin, paling juga kebetulan lewat, pikirku. Tertegun. “Cha, Adhi masuk kelas kita. Lihat deh! Dia lihat kamu!” Kata Ita dengan menepuk-nepuk bahuku. APA?. “Ehm, dia senyumin kamu loh!” Suara Nadine pun lenyap dalam pikiranku. Kaget. Bingung. “Bundaaaaaa!” Teriakku dengan mencari Bunda. “Bun, Ita mau pamit pulang nih!” Kataku setelah melihat Bunda sedang merapikan meja makan. “loh? Kok buru-buru?” Tanya Bunda ke arah Ita. “Iya tante. Oh iya tante...

Cinta di Rumah Sakit

Liburan yang sangat panjang. Membuatku sedikit malas untuk berangkat sekolah. “Pak Sadi sudah nunggu di luar tuh!” Kata Bunda seraya membersihkan piring-piring di meja makan. “Iya tau, Bun! Icha berangkat dulu ya, Bun!” Kataku. Setelah pamit, aku langsung keluar dan masuk mobil. “Pagi Non!”. “Pagi!” Di tengah perjalanan, terlihat dari kaca mobilku, itu mobil Adhi. Adhi adalah anak sebelas ips dua, salah satu anak seangkatan denganku, yang sejujurnya aku menyukainya. Tapi sudahlah lupakan. “Maaf ya, Non. Di depan ada kecelakaan, jadi mungkin Non telat.” Kata-kata Pak Sadi membuatku bertanya-tanya. Refleks, aku kira itu Adhi yang kecelakaan. Tapi semoga aja bukan. Tepat pukul tujuh, sesampainya di sekolah, terpaksa aku terkena sangsi keterlambatan. Tidak mengikuti satu jam pelajaran, beruntung karena pelajaran pertama bahasa Indonesia, pikirku. Bel pun berbunyi tanda pelajaran memasuki jam ke dua. “Tumben telat, Cha?” Tanya Ita memasang muka curiga. “Tadi di tengah jalan ada kecelakaan...

Sial, Mantan Pacarku Balik

Sial. Entah kenapa, rasanya aku selalu merasa ingin marah ketika melihatnya bersama dengan mantannya itu. Kata temanku, itu pasti perasaan cemburu. Ku pikir-pikir kata mereka benar juga. Aku cemburu, marah, dan begitulah. Kalian pasti juga merasakan itu kalau kalian melihat pacar kalian berhubungan baik dengan mantannya. ‘Huh, sebel banget sih! Ngapain sih tuh anak, centil banget!’, Kataku dalam hati seraya mengerutkan kening. “Ferri!”, Teriak Mira ke arah ku dan Ferri. “Sayang sebentar ya!”, Kata Ferri kepadaku seraya berjalan ke arah Mira. ‘Dasar cewek genit!’, Celahku dalam hati. Sejenak aku diam, melihat ke arah Wina dan Keila. Sepertinya mereka melambaikan tangan ke arahku. “Daripada panas disini, ke Wina dan Keila ah!”, Kataku seraya berjalan ke arah mereka. “Kalian ngapain disini?”, Tanyaku kepada Wina dan Keila. “Ini nih, nungguin Vera sama Keyrin.”, Jawab Wina kepadaku. “Bilangnya ke kantin tapi lama banget!”, Selah Keila. “Hey semua!”, Sapa Vera dan Keyrin bersamaan. “Pula...

Sial, Mantan Pacarku Balik II

Setelah sebulan berlalu, aku havefun dengan Wina, Keila, Keyrin, dan Vera. Mereka memang sahabat terbaikku. Bahagia rasanya bisa mengenal mereka. Sayang ini takkan terputus untuk mereka. “Aku sayang kalian!”, Kataku seraya membuka jendela kamar. Hari ini hari minggu, rencananya aku dan Wina akan nonton bioskop bersama. Dan kebetulan ini salah satu film yang ingin ku tonton, “Nonton Avatar ya Win?”, Tanyaku ke Wina yang sedang sibuk bermain handphonenya. “Iya deh!”, Jawab Wina seraya berjalan mengikutiku dari belakang. “Wah antri gini Ri!”, Kata Wina. “Iya udah, mau apa lagi?”, Kataku seraya berdiri di antrian paling belakang. Setelah membeli tiket nonton, aku duduk di sebelah Wina. Dari jauhan, aku melihat Ferri dan Mira. ‘Sepertinya mereka sedang berantem’, Kataku dalam hati seraya terus melihat mereka. “Sstt, Win! Ada Mira sama Ferri!”, Kataku dengan menepuk lengan Wina. “Iya, kayaknya mereka berantem! Eh, si Mira nangis tuh!”, Jawab Wina yang matanya terus melihat searah dengan arah...