Skip to main content

Posts

Sial, Mantan Pacarku Balik

Sial. Entah kenapa, rasanya aku selalu merasa ingin marah ketika melihatnya bersama dengan mantannya itu. Kata temanku, itu pasti perasaan cemburu. Ku pikir-pikir kata mereka benar juga. Aku cemburu, marah, dan begitulah. Kalian pasti juga merasakan itu kalau kalian melihat pacar kalian berhubungan baik dengan mantannya. ‘Huh, sebel banget sih! Ngapain sih tuh anak, centil banget!’, Kataku dalam hati seraya mengerutkan kening. “Ferri!”, Teriak Mira ke arah ku dan Ferri. “Sayang sebentar ya!”, Kata Ferri kepadaku seraya berjalan ke arah Mira. ‘Dasar cewek genit!’, Celahku dalam hati. Sejenak aku diam, melihat ke arah Wina dan Keila. Sepertinya mereka melambaikan tangan ke arahku. “Daripada panas disini, ke Wina dan Keila ah!”, Kataku seraya berjalan ke arah mereka. “Kalian ngapain disini?”, Tanyaku kepada Wina dan Keila. “Ini nih, nungguin Vera sama Keyrin.”, Jawab Wina kepadaku. “Bilangnya ke kantin tapi lama banget!”, Selah Keila. “Hey semua!”, Sapa Vera dan Keyrin bersamaan. “Pula...

Sial, Mantan Pacarku Balik II

Setelah sebulan berlalu, aku havefun dengan Wina, Keila, Keyrin, dan Vera. Mereka memang sahabat terbaikku. Bahagia rasanya bisa mengenal mereka. Sayang ini takkan terputus untuk mereka. “Aku sayang kalian!”, Kataku seraya membuka jendela kamar. Hari ini hari minggu, rencananya aku dan Wina akan nonton bioskop bersama. Dan kebetulan ini salah satu film yang ingin ku tonton, “Nonton Avatar ya Win?”, Tanyaku ke Wina yang sedang sibuk bermain handphonenya. “Iya deh!”, Jawab Wina seraya berjalan mengikutiku dari belakang. “Wah antri gini Ri!”, Kata Wina. “Iya udah, mau apa lagi?”, Kataku seraya berdiri di antrian paling belakang. Setelah membeli tiket nonton, aku duduk di sebelah Wina. Dari jauhan, aku melihat Ferri dan Mira. ‘Sepertinya mereka sedang berantem’, Kataku dalam hati seraya terus melihat mereka. “Sstt, Win! Ada Mira sama Ferri!”, Kataku dengan menepuk lengan Wina. “Iya, kayaknya mereka berantem! Eh, si Mira nangis tuh!”, Jawab Wina yang matanya terus melihat searah dengan arah...

PUMA

Di suatu kota yang ramai akan penduduk, terdapat kerajaan “PUMA (Sepuluh Lima)”. Disana banyak sekali putri raja. Tetapi anehnya, tak seorang putri raja pun yang menikah. Sudah berulang kali, banyak pemuda yang mencoba melamar di antara mereka, dari raja, pengeran, sampai pemuda biasa-biasa saja, tetapi tak seorangpun yang berhasil mendapatkan salah satu dari mereka. Pagi yang cerah, terlihat kelima belas putri raja keluar dari kerajaan. Mereka terlihat anggun dengan busana yang mereka kenakan. Dengan senyum manisnya, putri Aya menyapa pagi. Sedang di ujung taman kerajaan putri Nesya dan putri Tika bercanda tawa. Tidak luput dari itu, putri raja lainnya juga bermain bersama. Indahnya kerajaan Puma dengan kehadiran mereka. Cantik, manis, dan selalu ceria, itulah putri Dyah. Lucu, imut, dan murah senyum, itu yang bernama putri Naura. ‘Tok tok tok!’, Terdengar dari arah pintu kerjaan. “Itu suara apa ya?”, Tanya putri Aqila kepada ketiga putri lainnya yang di dekatnya. “Ayo kita cari tahu...

In My Heart

Ketika aku tahu, aku punya penyakit ini, aku yakin pasti hidupku tidak akan lama lagi. Aku tidak mau keluargaku mengetahui pernyakitku ini, maka dari itu aku terus berusaha menahannya. Tidak ada satupun orang yang tahu akan ini, kecuali dokter yang memeriksaku. “Kamu harus di operasi sebelum bibit kanker yang ada di hatimu menyebar.”, Kata dokter Hadi kepadaku. Aku hanya menunduk, tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku ceritakan semuanya ke dokter Hadi, dia sedikit mengerti, tapi dia tetap menyuruhku untuk mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orang tuaku. Sejenak aku berpikir, lalu keluar dari ruangan itu. Di jalan, aku bertemu dengan Chika, dia sahabatku mulai dari kecil. Diapun tidak tahu akan penyakitku ini, karena aku tidak pernah cerita apapun tentang ini, takutnya dia memberitahu keluargaku. “Chika!”, Teriakku memanggilnya. Aku lihat dia tidak sendiri, dia bersama Leon, pacarnya. “Eh, kamu Bel! Kamu dari mana? Mama kamu tadi telfon aku, dia nyariin kamu.”, Kata Chika den...

Konyol!!!

Gila. Banyangin nih, kalau ada di kamus hidup mu, aku yakin kamu adalah orang terkonyol di dunia. Ini kejadian aku yang mengalaminya sendiri. Sekitar dua tahun yang lalu. Ini berawal dari pertama kali aku menginjak dunia remaja. MOS alias Masa Orientasi Siswa itu yang paling aku takuti waktu itu. Secara di sekolah baru ku, tak satu pun orang yang ku kenal. Yah, maklumlah aku kan anak baru. MOS hari pertama aku jalani dengan baik. Tapi, hari itu benar-benar membuat ku trauma dengan yang namanya bawang putih. “Sekarang kalian pake kalung bawangnya, lalu kalian keliling sekolah sambil bergaya mengusir hantu-hantu! CEPET!”,Suruh salah satu kakak kelas seraya teriak-teriak. Mau gimana lagi. Mau tak mau, aku harus melakukannya. Dengan beberapa temanku yang lain, aku mengelilingi sekolah. Dari ujung lapangan bola, lapangan basket, kantin sekolah, sampai belakang sekolah. Di belakang sekolah, aku dan teman-teman yang lain di kejutkan dengan sosok bayangan hitam di belakang kami. “AARRRRGGGGHH...

Aku Anak Angkat!!!

--> Aku anak ketiga dari tiga bersaudara. Umurku sekarang genap lima belas tahun. Aku mempunyai dua kakak. Satu cewek dan satu cowok. Namaku Terika Putri biasa di panggil dengan sebutan Rika. Kakakku yang pertama bernama Terisya Putri dan biasanya di panggil kak Risya. Sedangkan kakak cowokku bernama Terico Putra sudah pasti di panggil kak Rico. Aku tinggal bersama kak Rico. Karena kak Risya harus melanjutkan kuliah di luar negri. Sedangkan Papa, dia memiliki kantor di Amerika jadi Papa harus menetap disana. Papa pulang untuk menjenguk kita sekitar sebulan sekali. Itupun kalau sempat. Kalau Mama, dia sudah tidak ada di dunia ini. Pagi yang cerah tapi mungkin tak secerah hati kak Rico. Dia kelihatan sedih sepertinya. “Kak Rico kenapa?”,Tanyaku dengan tersenyum padanya. “Nggak pa-pa kok dek!”,Jawabnya seraya memelukku lembut. “Kak, Rika boleh nanya nggak?”,Tanyaku yang masih merasakan kehangatan pelukan itu. “Boleh kok! Adek mau nanya apa?”,Kata kak Rico seraya melepaskan peluk...

just my story

“Hari ini cerah banget!”,Kataku ketika membuka jendela kamar dan lekas bangun. Namaku Biola Venenzia. Orang tuaku memberikan nama itu karena mereka ingin aku menjadi pemain biola terkenal. Bukan hanya kedua orang tuaku, tapi aku juga mengingikan itu. “Ola!! Ayo turun, makan dulu!”,Teriak Mama menyuruhku bergegas turun. “Ops! Aku belum mandi. Hehe”,Kataku yang segera masuk ke kamar mandi. “Bentar, Ma!”,Jawabku di kamar mandi. Setelah sarapan pun selesai, aku segera berangkat sekolah. Ya, seperti biasa aku harus nunggu bus di halte seberang komplek rumahku. Setelah sekitar lima menit aku menunggu, “Akhirnya, bus itu datang juga!”,Kataku ketika melihat bus lewat di depanku dan seakan menarikku untuk memasukinya. Hehe. “Perempatan.. Perempatan..”,Kata seseorang di belakangku. “Pak, aku turun sini! Nih uangnya.”,Ujarku seraya memberikan uang kepada orang itu. Setelah turun bus, aku harus kepangkalan ojek untuk bisa sampai sekolahku tercinta. Hehe. “Bang, ojeknya dong!”,Kataku seraya menga...